True Peak of Happiness

Pagi itu, udara sangat segar. Jaultop dan Jacordop telah bersiap dengan pakaian santai yang nyaman untuk mendaki.
memilih naik bus umum untuk menuju area pendakian di sekitar Gunung Sibayak.



Di dalam bus, suasana terasa sangat hangat dan menyenangkan, mereka duduk berdampingan, Jaultop dan Jacordop tak henti-hentinya bercanda dan tertawa, membuat perjalanan yang cukup panjang menjadi tidak terasa melelahkan.

Di tengah perjalanan, bus melintasi jalanan menanjak yang menyuguhkan pemandangan luar biasa. Dari jendela bus, mereka bisa melihat hamparan sawah hijau yang luas dan deretan pegunungan yang tertutup kabut tipis.
Jacordop berkali-kali menunjuk ke luar jendela dengan antusias, mengajak Jaultop melihat keindahan alam yang selama ini hanya ia lihat dari kejauhan jendela rumah panggungnya.
Meskipun perjalanan ini jauh dari kemewahan istana atau kilauan intan berlian, senyum di wajah Jacordop menunjukkan bahwa kebersamaan dengan Jaultop adalah harta yang paling berharga. Duduk di depan seorang nenek yang asyik merajut dan dikelilingi penumpang lainnya, mereka merasa sangat bahagia bisa menjadi bagian dari kesederhanaan dunia nyata.

 
Setelah bus kuning itu berhenti perlahan dan pintu terbuka dengan desis angin, Jacordop dan Jaultop akhirnya menapakkan kaki di pemberhentian terakhir. Udara di sini terasa berkali-kali lipat lebih dingin, membawa aroma tanah basah dan pinus yang menyegarkan.



Mereka mulai berjalan menyusuri jalan setapak kecil yang mulai menanjak menuju lereng gunung.







 Jacordop tampak begitu bersemangat. Ia meletakkan satu tangannya di dahi, menyipitkan mata melihat jauh ke depan ke arah puncak gunung yang megah. Baginya, ini adalah awal dari petualangan yang selama ini hanya ada di dalam pikirannya akan tetapi Jaultop tampak sedikit kewalahan. Mungkin karena ransel yang berat atau mungkin dia sedang memikirkan pantun "banyak utang" tadi! Ia berjalan dengan tangan bersedekap dan ekspresi wajah yang lucu, seolah sedang mengumpulkan tenaga untuk pendakian yang sesungguhnya.

 
padang rumput hijau membentang luas. Jalan setapak tanah yang mereka lalui tampak berkelok-kelok, membelah lereng menuju ke atas. Bus yang membawa mereka tadi kini tampak mengecil di belakang, menjadi saksi bisu dimulainya perjalanan fisik mereka.








Meski Jaultop terlihat sedikit lelah di awal, Jacordop terus memberikan semangat. "Ayo pangeranku, istana awan menanti di atas sana!" serunya sambil tertawa.




Keajaiban Alam: Sinar matahari yang menerobos celah-celah daun (komorebi) menciptakan pola-pola cahaya di tanah yang mereka pijak. Suara gemericik air dari sumber mata air terdekat mulai terdengar, menambah ketenangan dalam perjalanan mereka.

"Dengar itu, Jaultop!" bisik Jacordop pelan. "Itu musik alami, jauh lebih merdu daripada musik pesta dansa manapun."
 
Jaultop akhirnya tersenyum kecil. "Asal setelah sampai di atas ada kopi hangat, aku akan mendaki sampai ke ujung dunia bersamamu, Jacordop."

Fajar menyingsing dengan warna ungu dan emas yang membelah kegelapan. Setelah pendakian terakhir yang melelahkan di bawah sinar bulan, Jaultop dan Jacordop akhirnya menjejakkan kaki di puncak tertinggi.





Dunia di bawah mereka tampak tertutup lautan awan putih yang lembut, seperti kapas yang membentang tanpa batas.
 Saat matahari mulai muncul di garis cakrawala, sinarnya yang hangat menyentuh wajah mereka. Gunung-gunung lain di kejauhan tampak seperti pulau-pulau kecil di tengah samudra awan.
Jacordop berdiri terpaku, matanya berkaca-kaca melihat keindahan yang begitu megah. Semua khayalannya tentang istana dan berlian terasa sangat kecil dibandingkan dengan kemegahan alam ciptaan Tuhan ini. Ia menyadari bahwa inilah "berlian" yang sesungguhnya—cahaya matahari yang memantul di kristal embun puncak gunung.

Jaultop berdiri di sampingnya dengan napas terengah namun bangga. Ia tidak lagi mengenakan tuxedo khayalan, hanya jaket tebal yang kotor karena tanah, tapi di mata Jacordop, dia jauh lebih gagah daripada pangeran manapun.

"Kita berhasil, Jacordop," bisik Jaultop pelan.



Di puncak Sibayak, di atas awan-awan yang berarak, mereka berdiri bersama—bukan sebagai putri dan pangeran, tapi sebagai dua sahabat yang telah menaklukkan rasa takut dan ego mereka sendiri. #pendaki
Pemandangan yang luar biasa! Sepertinya tidak ada yang bisa mengalahkan rasa nikmat makan dan minum kopi di atas awan seperti itu—apalagi setelah perjuangan mendaki.

Sebelum pulang mereka memastikan semua bungkus snack dan sachet kopi tadi masuk kembali ke dalam tas.


Bepergian: membuatmu terdiam, lalu mengubahmu menjadi seorang pendongeng".
"Kumpulkan momen, bukan barang".
"Berliburlah, kunjungi sebanyak mungkin tempat. Uang bisa dicari, tapi kenangan tidak selalu bisa diciptakan".
"Perjalanan adalah satu-satunya hal yang Anda beli yang membuat Anda lebih kaya".
"Jangan hanya memandang peta, datang dan rasakan tempatnya". 

Dan merekapun pulang dengan membawa sejuta pengalaman yang akan mereka kenang.

The mountain stands tall against the blue,
A path for the brave, a journey for two.
Forget the gold and the royal hue,
The realest treasure is me and you.



Comments

Popular posts from this blog

Practice with animation

Basic 👉 advance

How We Live on the Edge of the Ocean